Daftar Isi
Rabu, 23 September 2026, ruang pelatihan CERYA Foundation di Bogor terisi para trainer yang datang dari berbagai daerah. Mereka berkumpul untuk Training of Trainers (TTT), langkah pertama kemitraan CERYA Foundation dan Intel® Skills for Innovation (Intel SFI) yang baru resmi berjalan.
Bahwa kegiatan pertama kemitraan ini adalah pelatihan, bukan seremoni, memberi sinyal yang jelas: kolaborasi ini langsung bergerak ke pelaksanaan.
23 Sep 2026Training of Trainers perdana
Lintas daerahTrainer dari berbagai daerah
Mitra berlisensiImplementasi Intel SFI di Indonesia
Mengapa kemitraan ini penting
Titik berangkatnya adalah perubahan dunia kerja. World Economic Forum memperkirakan sekitar 39% keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. Bagi sekolah, angka itu punya konsekuensi sederhana: menambah perangkat di kelas tidak cukup.
Yang perlu dibangun adalah kecakapan yang tetap berguna ketika teknologinya berganti, yaitu berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan inovasi. Di situlah Intel SFI bekerja. Kerangka yang sudah dipakai pendidik di banyak negara ini menempatkan teknologi sebagai alat untuk berpikir dan menciptakan solusi, bukan sebagai tujuan.
Teknologi adalah alat untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan menciptakan solusi nyata, bukan tujuan itu sendiri.
Lewat kemitraan ini, CERYA Foundation menghadirkan Intel SFI di Indonesia sebagai mitra implementasi berlisensi. Kurikulumnya global, pendampingannya kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan perguruan tinggi di sini. Penjelasan lengkap kerangka ini ada di Panduan Lengkap Intel Skills for Innovation.
Dimulai dari para trainer
Mengapa tidak langsung melatih guru? Karena perubahan di ratusan kelas membutuhkan fasilitator yang memahami pendekatannya dengan cara yang sama. TTT dirancang agar trainer CERYA memahami pendekatan Intel SFI secara utuh, lalu siap bekerja berdampingan dengan pendidik sebagai fasilitator perubahan.
Trainer dipilih dari berbagai daerah dengan sengaja. Tujuannya membangun jejaring pelatih yang bisa menjangkau institusi di seluruh Indonesia: pemahamannya seragam, tetapi tetap peka terhadap konteks lokal.
Dari trainer ke ruang kelas
TTT adalah lapis pertama dari perjalanan yang dirancang bersambung.
-
Trainer
Memahami pendekatan Intel SFI dan siap menjadi fasilitator.
-
Guru dan dosen
Belajar memadukan teknologi dengan pedagogi agar kelas lebih aktif dan relevan.
-
Ruang kelas
Pengetahuan diuji dalam praktik sehari-hari bersama peserta didik.
Fokus lapis kedua adalah pedagogi: bagaimana teknologi mendorong siswa bertanya, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, dan menyelesaikan masalah nyata. Bagi guru dan dosen yang ingin memulai, jalurnya dibahas di Pelatihan Online Intel SFI untuk Guru dan Dosen.
Empat prinsip pendampingan
Seluruh pendampingan CERYA dijaga oleh empat prinsip.
-
Kontekstual
Sekolah di kota besar dan lembaga di daerah tidak diperlakukan dengan pola yang sama.
-
Praktis
Guru pulang membawa langkah yang bisa dicoba keesokan harinya, bukan hanya teori.
-
Berkelanjutan
Pendampingan bertahap, bukan pelatihan sekali selesai, karena praktik mengajar butuh waktu untuk berubah.
-
Terukur
Kemajuan dipantau bersama institusi mitra, lalu dipakai sebagai dasar perbaikan.
Lima tahap kerja sama
Institusi yang tertarik menempuh lima tahap yang membentuk satu siklus.
Pemetaan kondisi dan kebutuhan institusi.
Perancangan rencana implementasi sesuai konteks, berdasarkan hasil pemetaan.
Pelatihan yang membekali pendidik dengan kompetensi Intel SFI.
Implementasi pembelajaran di kelas secara bertahap.
Refleksi: evaluasi hasil dan rancangan langkah lanjutan, yang membuka siklus pengembangan berikutnya.
Sertifikat, Ambassador, dan Certified School
Setiap langkah punya pengakuan yang jelas dan dapat diverifikasi.
Sertifikat
Certificate of Completion resmi untuk tiap kursus dan level, format PDF, plus lencana digital untuk LinkedIn dan portofolio.
Jalur-jalur ini bisa dikombinasikan sesuai kesiapan. Sebuah sekolah dapat mulai dari pemetaan dan pelatihan guru, lanjut ke implementasi dan sertifikasi, lalu bertahap menuju komunitas Ambassador dan pengajuan status Certified School.
Terbuka untuk siapa
Sekolah dan perguruan tinggi, sebagai landasan pengembangan mutu pembelajaran di lembaganya.
Pendidik dan mahasiswa, untuk memperkuat kompetensi pribadi.
Pemerintah dan yayasan, sebagai sarana peningkatan kapasitas pendidik di daerah binaan.
Perusahaan dan mitra CSR, lewat dukungan pada program pendidikan yang berdampak nyata.
Komunitas dan organisasi nirlaba, sebagai bagian dari pemberdayaan pendidik di lingkungannya.
Ke depan
CERYA Foundation memandang rangkaian ini sebagai upaya membangun dampak yang berkelanjutan, bukan sekadar deretan pelatihan. Ambisinya adalah jejaring pendidik dan trainer yang mampu menerjemahkan teknologi menjadi pedagogi yang lebih baik, sehingga perubahan benar-benar terjadi di ruang kelas.
Selanjutnya, CERYA akan bekerja bersama Intel® Skills for Innovation Community, para pendidik, sekolah, perguruan tinggi, otoritas pendidikan, dan mitra di seluruh Indonesia untuk menyiapkan guru dan pelajar menghadapi masa depan.
Empowering Educators.
Transforming Classrooms.
Shaping the Future.
Ingin sekolah, kampus, atau daerah Anda menjadi bagian dari perjalanan ini?
Artikel ini disusun ulang dari berita Kemitraan CERYA Foundation dan Intel® SFI Dimulai (membuka tab baru) di cerya.id. Angka 39% bersumber dari World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025 (membuka tab baru).