CERYA Foundation

Pengembangan Profesional · Pendidikan Tinggi

Intel SFI untuk Dosen dan LPTK: Menyiapkan Calon Guru untuk Kelas Masa Depan

Calon guru mengajar seperti cara mereka diajar. Inilah mengapa perubahan kelas masa depan perlu dimulai dari ruang kuliah LPTK, dan bagaimana Intel SFI membantunya.

Tim CERYA Foundation Mitra Program Berlisensi Intel® Skills for Innovation Indonesia
±10 menit baca

Ilustrasi rantai dampak: kartu dosen bertoga, panah ke kartu tiga calon guru berlabel PPL dan PPG, lalu panah ke kartu kelas berisi siswa, dikelilingi sertifikat berlencana, sekolah praktik, tabel pemetaan mata kuliah, dan chip AI
Dari ruang kuliah ke ruang kelas: dosen memodelkan, calon guru mengalami, siswa merasakan dampaknya.
Daftar Isi

Oleh Tim CERYA Foundation · Mitra Program Berlisensi Intel® Skills for Innovation Indonesia

Ada satu pola yang sudah lama dikenal dalam dunia pendidikan guru: calon guru cenderung mengajar dengan cara mereka dulu diajar. Mahasiswa yang empat tahun duduk mendengarkan ceramah akan lebih mudah berceramah di depan kelasnya kelak, apa pun teori pembelajaran yang ia hafalkan untuk ujian.

Karena itu, perubahan di ruang kelas sekolah tidak cukup dimulai dari pelatihan guru dalam jabatan. Ia perlu dimulai lebih hulu: di ruang kuliah lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), tempat calon guru pertama kali membentuk gambaran tentang seperti apa mengajar yang baik.

DosenMemodelkan cara mengajar di ruang kuliah
Calon guruMembawa pengalaman itu ke PPL dan kelasnya
SiswaMerasakan dampaknya selama puluhan tahun
Perubahan yang dimulai di ruang kuliah diteruskan hingga ruang kelas.

Artikel ini membahas mengapa dosen dan LPTK memegang posisi kunci saat ini, dan bagaimana kerangka Intel® Skills for Innovation (Intel SFI) dapat membantu menyiapkan calon guru yang benar-benar siap untuk kelas masa depan.

Mengapa LPTK kini berada di posisi kunci

Dalam dua tahun terakhir, arah pendidikan dasar dan menengah berubah cukup cepat. Tiga perubahan berikut langsung berdampak pada apa yang harus dikuasai lulusan LPTK.

  1. 1. Pembelajaran mendalam menjadi pendekatan nasional

    Sekolah diarahkan menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan yang sama juga diterapkan dalam penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG).

  2. 2. Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) masuk kurikulum

    Melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, KKA menjadi mata pelajaran pilihan dari kelas 5 SD hingga kelas 12, diterapkan bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026. Sekolah akan membutuhkan guru yang percaya diri mengampunya.

  3. 3. Guru dalam jabatan sedang dilatih secara masif

    Kemendikdasmen menjalankan pelatihan pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial bagi guru pada Juli–November 2026, dengan target penerapan penuh di lebih dari 550.000 satuan pendidikan pada 2028.

Bila guru yang sudah mengajar sedang dikejar untuk menguasai kompetensi baru ini, lulusan LPTK yang masuk ke sekolah dua sampai tiga tahun ke depan semestinya sudah membawanya sejak awal.

Tantangan yang dihadapi LPTK

  • Kecepatan perubahan

    Teknologi, terutama AI, berubah lebih cepat daripada siklus revisi kurikulum program studi.

  • Kesiapan dosen

    Tidak semua dosen mata kuliah kependidikan berpengalaman merancang pembelajaran berbasis teknologi atau mengajarkan berpikir komputasional.

  • Teori jauh dari praktik

    Mahasiswa mempelajari model pembelajaran inovatif, tetapi jarang mengalaminya sendiri sebagai pembelajar.

  • Bukti kompetensi

    Sekolah dan penyelenggara PPG semakin mencari bukti nyata kemampuan calon guru, bukan hanya transkrip nilai.

Apa yang ditawarkan Intel SFI bagi LPTK

Intel SFI adalah kerangka pendidikan global dari Intel Corporation yang telah diterapkan di lebih dari 47 negara. Isinya pengembangan profesional berjenjang dengan lebih dari 80 jam materi, Starter Pack berisi 70 aktivitas kelas dengan total lebih dari 140 jam pembelajaran, serta jalur sertifikasi. Bagi LPTK, manfaatnya dapat dilihat dari tiga sisi.

Sisi 1

Bagi dosen

  • Pembaruan kompetensi yang terstruktur. Empat level pengembangan profesional membawa dosen dari kefasihan teknologi hingga merancang pengalaman belajar berbasis data, AI, dan pola pikir inovatif. Level 2 sampai 4 berjalan daring asinkron, sehingga dapat ditempuh di sela jadwal mengajar dan penelitian.
  • Bahan ajar yang siap diadaptasi. Aktivitas Starter Pack, lengkap dengan panduan guru, bahan tayang, dan lembar kerja, dapat dipakai sebagai contoh nyata dalam mata kuliah perencanaan pembelajaran atau metodologi.
  • Kerangka yang diperbarui. Materi Intel SFI mengikuti perkembangan teknologi, termasuk topik seperti forensik digital, deepfake, dan computer vision.

Sisi 2

Bagi mahasiswa calon guru

  • Mengalami, bukan hanya mempelajari. Mahasiswa merasakan sendiri pembelajaran berbasis design thinking, sains data, dan berpikir komputasional sebagai pembelajar, sebelum mengajarkannya.
  • Bukti kompetensi yang bisa ditunjukkan. Sertifikat kursus, sertifikat level, dan lencana digital dapat dilampirkan pada portofolio, lamaran kerja, atau berkas seleksi.
  • Bekal langsung untuk KKA dan pembelajaran mendalam. Kecakapan inti Intel SFI beririsan erat dengan elemen mata pelajaran KKA dan praktik pembelajaran mendalam.

Sisi 3

Bagi institusi

  • Data kemajuan yang terukur. Platform menyediakan pelacakan progres peserta, penerbitan sertifikat otomatis, dan dasbor analitik untuk program studi.
  • Bahan riset. Penerapan Intel SFI di sekolah mitra dan kelas PPL membuka peluang penelitian dampak pembelajaran yang relevan bagi dosen.

Memetakan Intel SFI ke mata kuliah kependidikan

Intel SFI tidak perlu berdiri sebagai mata kuliah baru. Unsur-unsurnya dapat disisipkan ke mata kuliah yang sudah ada. Tabel berikut adalah contoh pemetaan; nama mata kuliah dapat berbeda di tiap program studi.

Contoh pemetaan unsur Intel SFI ke mata kuliah kependidikan.
Mata kuliahUnsur Intel SFI yang dapat diintegrasikanContoh tugas mahasiswa
Perencanaan pembelajaranLevel 2: merancang pengalaman belajar, relevansi dunia nyata, keterlibatan siswaMengadaptasi satu aktivitas Starter Pack menjadi rencana pembelajaran mendalam untuk sekolah di daerah sendiri
Media dan teknologi pembelajaranLevel 1 dan Level 2: kefasihan digital, kemitraan guru–mesin, pembelajaran jarak jauhMenilai satu penggunaan teknologi di kelas memakai tangga SAMR, lalu merancang ulang ke tingkat yang lebih tinggi
Strategi atau model pembelajaranDesign thinking dalam pembelajaran berbasis proyekMerancang unit proyek enam pertemuan yang memadukan sintaks PjBL dan tahap design thinking
Asesmen pembelajaranLevel 3: berpikir analitis lewat dataMenganalisis data hasil belajar siswa di sekolah praktik dan merumuskan tindak lanjut
Metodologi bidang studi (IPA, Matematika, IPS, Bahasa)Aktivitas Starter Pack sesuai mata pelajaranMempraktikkan satu aktivitas Starter Pack dalam microteaching
Mata kuliah pilihan koding dan AI untuk calon guruKecakapan computational thinking, pemrograman, AI dan machine learningMerancang aktivitas KKA unplugged dan berbasis perangkat untuk satu fase
Praktik pengalaman lapangan (PPL)Penerapan aktivitas Intel SFI di kelas nyataMenerapkan satu aktivitas di sekolah mitra, mendokumentasikan karya siswa, dan menulis refleksi
Kewirausahaan atau inovasi pendidikanLevel 4: pola pikir agile, strategis, dan wirausahaMerancang solusi untuk satu persoalan sekolah memakai pendekatan design thinking

Prinsip yang dianjurkan: dosen mengalami lebih dulu, baru mengajarkan. Dosen yang menempuh jalur pengembangan profesional Intel SFI akan lebih mudah memodelkan praktiknya secara wajar di ruang kuliah.

Model kolaborasi bertahap

LPTK tidak perlu mengubah seluruh kurikulum sekaligus. Kolaborasi dapat tumbuh dalam lima tahap, masing-masing dengan keluaran yang bisa diperiksa.

  1. Dosen penggerak.

    Sekelompok kecil dosen lintas program studi menempuh jalur pengembangan profesional Intel SFI.

    Keluaran: dosen bersertifikat dan rancangan integrasi ke mata kuliah masing-masing.

  2. Integrasi mata kuliah.

    Unsur Intel SFI disisipkan ke beberapa mata kuliah terpilih pada satu semester.

    Keluaran: rencana pembelajaran semester yang diperbarui dan contoh tugas mahasiswa.

  3. Mahasiswa dan PPL.

    Mahasiswa menempuh kursus Intel SFI dan menerapkan aktivitasnya di sekolah praktik.

    Keluaran: sertifikat mahasiswa, dokumentasi karya siswa, dan jurnal refleksi.

  4. Riset dan sekolah mitra.

    Dosen meneliti dampak penerapan di sekolah mitra dan kelas PPL.

    Keluaran: artikel ilmiah, laporan dampak, dan praktik baik yang dapat dibagikan.

  5. Pelembagaan.

    Materi masuk ke mata kuliah pilihan atau program mikro-kredensial, dan menjadi bagian dari layanan LPTK kepada sekolah di daerahnya.

    Keluaran: program yang berjalan tanpa bergantung pada satu atau dua orang.

Kampus sudah mulai bergerak

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah membuka akses Intel SFI bagi sivitas akademikanya. Universitas Brawijaya, misalnya, membuka pelatihan Intel SFI (membuka tab baru) untuk mahasiswa serta untuk dosen dan tenaga kependidikan pada 2026. Langkah semacam ini menunjukkan bahwa kerangka Intel SFI relevan tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi pendidikan tinggi.

Bagi LPTK, peluangnya lebih besar lagi. Kompetensi yang dibangun tidak berhenti pada mahasiswa itu sendiri, tetapi diteruskan kepada siswa yang akan mereka ajar selama puluhan tahun ke depan.

Berkolaborasi dengan CERYA Foundation

Sebagai mitra program berlisensi Intel SFI, CERYA Foundation membuka kolaborasi dengan LPTK dan fakultas keguruan dalam beberapa bentuk:

  • Lokakarya dosen penggerak

    Tatap muka atau daring, termasuk pendampingan merancang integrasi ke mata kuliah.

  • Akses kursus bagi mahasiswa

    Dengan pendampingan dan pelacakan kemajuan melalui platform Intel SFI.

  • Pendampingan PPL

    PPL berbasis Intel SFI di sekolah mitra CERYA, termasuk dokumentasi karya siswa.

  • Kolaborasi riset dampak

    Memakai data dari sekolah dampingan CERYA di berbagai daerah.

Kami percaya perubahan paling tahan lama terjadi ketika calon guru sudah terbiasa merancang pembelajaran yang bermakna sejak di bangku kuliah.

Pertanyaan umum seputar Intel SFI untuk dosen dan LPTK

Bisa. Jalur pengembangan profesional Intel SFI terbuka bagi pendidik di berbagai jenjang, termasuk dosen. Level 2 sampai 4 berjalan daring asinkron, sehingga dapat ditempuh di sela kegiatan mengajar dan penelitian.

Ingin menjajaki kolaborasi dengan kampus Anda?

Ceritakan kebutuhan program studi Anda lewat formulir konsultasi. Tim CERYA akan menghubungi Anda dalam tiga hari kerja.

Sumber

Ingin tahu kebijakan KKA yang perlu disiapkan calon guru? Baca Penerapan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Sekolah.